APA ARTINYA AGAMA ?

 

Pertanyaan No. 109 :

Apakah agama itu hanya terdiri dari menyelidiki dan berdoa, berpuasa dan menangis, berhotbah dan menghiburkan, bertobat dan memaafkan, memohon dan memberi? Bagaimanakah seseorang dapat beragama, dan perbedaan apakah yang akan dibuatnya pada kehidupan seseorang ?

Jawab:

Sebagaimana halnya Teladan Besar dari agama Alkitab itu adalah FIRMAN (PUTERA) Allah dalam bentuk manusia (1 Yahya 1 : 1), maka agama Alkitab itu sendiri adalah perintah-perintah (kebenaran) Allah dalam bentuk manusia (2 Korinthi 3 : 3 ; Keluaran 31 : 18). Tetapi saluran melalui mana jiwa masuk ke dalam komunikasi penting dengan agama Alkitab itu, ialah Roh Suci. Maka hubungan yang hidup ini dengan Firman Allah adalah merupakan persyaratan yang perlu untuk mempraktekkan agama Alkitab --- yaitu satu-satunya cara bagi penebusan manusia --- yaitu kembalinya dari pengembaraannya di dalah hutan belantara ke rumah Eden-nya. Olehnya itu barangsiapa yang hendak memiliki agama yang benar, ia harus berdoa memohon Roh Kebenaran. Tidak ada lagi cara lain yang dapat membuatnya menjadi benar-benar beragama --- menjadi “log-log daging”, yaitu perintah-perintah Allah dalam bentuk manusia. Penghayatannya terhadap perintah-perintah itulah yang menghindarinya bukan saja dari pada menyembah kepada sesuatu ilah yang palsu ataupun sesuatu yang menyerupai Allah sendiri, melainkan juga dari membuang-buang waktu. Kesetiaan kepada perintah-perintah itu mendorongnya untuk melakukan semua pekerjaannya dalam enam hari kerja setiap minggu, sehingga tidak membiarkan satupun pekerjaannya itu tertunda berlarut-Iarut dari minggu ke minggu. Dan oleh perintah-perintah itulah ia diingatkan bahwa hari yang ketujuh adalah suatu Peringatan yang Suci kejadian dunia (Keluaran 20 : 3 - 17) dan ia diberi kesan bahwa ia harus mencintai sesamanya seperti akan dirinya sendiri (Markus 12 : 31). Demikianlah kita lihat bahwa agama yang benar, benar-benar akan terdiri dari sesuatu yang melebihi bukan saja berdoa, berpuasa, memberi dan berhotbah; dan bahwa tentu sekali tidak termasuk "mengemis" di dalamnya.

Para anggota dari sidang-Kerajaan, menurut Yesaya, harus cekatan dalam setiap usaha dan pekerjaan mereka. Sebagai ahli-ahli pembangun, insinyur-insinyur, tukang-tukang kayu, tukang-tukang batu, montir-montir, atau apapun juga, mereka harus "membangun kembali kehancuran-kehancuran yang lama .......... mendirikan segala kerobohan batu yang terdahulu, dan .......... memperbaiki kota-kota yang rusak, yaitu semua kehancuran dari banyak generasi." Yesaya 61 : 4. Mereka juga harus menjadi pemelihara hewan, pemilik kebun anggur, ahli-ahli pertanian. Dan seperti yang sedemikian ini, mereka harus cakap dalam ilmu managemen, yang mempekerjakan beribu-ribu orang luar, bukan saja melayani kebutuhan-kebutuhan mereka dan membangun (Yesaya 60 : 10), melainkan juga untuk "berdiri dan memberi makan" kawanan domba mereka, dan menjadi orang-orang pembajak tanah dan pemelihara anggur mereka itu (Yesaya 61 : 5). Dengan demikianlah, maka "mempelajari bidang pertanian harus merupakan pendidikan A, B dan C yang diberikan di sekolah-sekolah kita." --- Testimonies, vol. 6, p. 179. "Agama yang murni dan praktis akan dimanifestasikan dalam mengerjakan tanah sebagai rumah perbendaharaan Allah. Makin seseorang menjadi pintar, pengaruh agama akan makin bersinar-sinar keluar dari dirinya. Dan Tuhan menghendaki kita mengerjakan tanah sebagai sesuatu perbendaharaan yang berharga, yang dipercayakan kepada kita secara pinjaman." --- Testimonies to Ministers, p. 245.

Di samping menjadi ahli-ahli pengolah tanah yang cakap, tukang-tukang, dan pedagang, para pemimpin Kerajaan ini, sebagai pewujud-pewujud Kristen murni yang hidup, harus juga menjadi ahli-ahli perbankan, ahli-ahli ekonomi, ahli-ahli kepegawaian dan pengatur lalu lintas secara internasional, dan pengatur-pengatur perbekalan, yang bersama-sama menangani "barisan-barisan" dan "harta kekayaan orang-orang Kapir." Yesaya 60 : 5, 11; 61 : 6. Dan dengan dilengkapi sedemikian ini dengan keahlian-keahlian yang sempurna, maka melebihi segala-segalanya, mereka akan menjadi "Iman-Imam Tuhan .......... Pendeta-Pendeta dari Allah kita" --- yaitu "orang-orang yang dikagumi." Yesaya 61 : 6; Zakharia 3 : 8.

Sesuai dengan itu penginjil akan diberitahu dengan sepatutnya dalam mengejar kehidupan yang praktis dan untuk menjadi ahli dalam sedikit-dikitnya satu perkara. Tentu setiap penghotbah yang memperoleh sepuluh persen (perpuluhan) dari penghasilan seorang petani, harus belajar untuk mampu memberi bantuan kepadanya untuk memperbaiki metode-metode pertaniannya dengan cara yang praktis pada setiap kali timbul kesempatan. Tegasnya, ia harus mampu membantu para anggota sidangnya dalam mengorganisasi, mengoreksi, atau memperbaiki pekerjaan dan usaha mereka. Yesus mengajarkan kepada murid-murid-Nya bukan saja berdoa, menghotbah dan menghayati Kebenaran, memberi dan memaafkan, melainkan juga untuk melayani, mencari ikan, memberi makan dan memberi pakaian, dan membayar hutang dalam cara perdagangan. (Bacalah Matius 6 : 5 - 13; 10 : 5 - 7, 27; 5 : 19, 20; 23 : 3, 4; Yahya 3 : 20, 21; Kisah Rasul-Rasul 20 : 35; Matius 6 : 14, 15; 18 : 21, 22; 20 : 25 - 28; Markus 6 : 35 - 41; Lukas 22 : 7 - 13; Yahya 21 : 3 - 6; Matius 25: 31 - 45; 17 : 24 - 27).

Tetapi untuk menjadi seorang Kristen yang sedemikian ini, yaitu seorang beragama yang sebenarnya, orang harus pertama sekali mengorganisir keseluruhan pribadinya, mengontrol dengan benar, mengkoordinasikan, dan menggunakan kekuatannya, tenaganya, uangnya, dan waktunya. Setiap orang yang gagal memanfaatkan empat ganda ekonomi pribadi yang terintegrasi ini, tidak akan pernah mencapai sesuatu keberhasilan yang sebenarnya. Untuk berbuat demikian itu ia harus mendapatkan "enam puluh detik jarak waktu yang habis dari setiap menit yang tidak diampuni." Enam puluh menit dari pemakaian maksimum dan penyelesaian dari setiap jam kerja atau istirahat, dan efektivitas puncak dari setiap gerakan atau pukulan. Tegasnya, ia harus menghapuskan setiap gerakan yang sia-sia, seperti juga dengan setiap gerakan yang tidak dipikirkan, penggandaan yang tidak langsung dan gerakan-gerakan yang saling tindih, yang tidak menghasilkan apa-apa, melainkan hanya menghabiskan cadangan tenaga. Pekerjaan seorang Kristen yang sempurna sedemikian ini tidak akan pernah ditemukan terlaksana dalam cara yang sembrono atau asal kena saja.

Lagi pula, ia tidak akan pernah ditemukan hidup melebihi kemampuannya, melainkan dengan sangat seksama mengatur anggaran belanja penghasilannya sehingga memungkinkan dia hidup sesuai kemampuannya dan juga secara teratur menyisihkan sejumlah kecil sebagai cadangan menghadapi hari hujan. Ia menghindari hutang; ia tahu bahwa kebiasaan selalu meminjam dan tidak pernah mampu membayar kembali, ialah suatu jenis perampokan --- membohong.

Orang yang sedemikian ini, apakah miskin atau kaya, tidak pernah takut menghadapi hari depan. Ia secara rendah hati menaruh harap pada Tuhan untuk kebutuhan setiap harinya; ia tidak pernah memiliki pikiran ragu-ragu “menghadapi hari esok.” Matius 6 : 27 -34.

Dalam segala-galanya, kita saksikan bahwa agama Alkitab, Kekristenan, adalah tak lain dari berbalik dari pada mematuhi iblis kepada mematuhi Tuhan, berbalik dari pada suatu kehidupan yang berbuat keliru kepada suatu kehidupan yang berbuat benar, kepada memberi pinjaman; dari meminta-minta kepada memberi; dari menipu kepada mengembalikan dan kepada melayani dengan jujur; dari menagih kepada memaafkan; dan dari dilayani kepada melayani.

“Agama yang benar akan senantiasa terlihat dalam kata-kata dan pembawaan kita, dan dalam setiap prilaku kehidupan. Dengan pengikut-pengikut Kristus, agama jangan sekali dipisahkan dari kegiatan usaha. Keduanya harus berjalan bersama-sama, dan perintah-perintah Allah  harus dipatuhi dengan ketat di dalam masalah dunia yang terkecilpun. Kesadaran bahwa kita adalah anak-anak Allah harus memberikan suatu nada tabiat yang tinggi bahkan sampai kepada tugas-tugas kehidupan setiap hari, sehingga tidak membuat kita sembrono dalam pekerjaan, melainkan tetap bersemangat. Agama yang sedemikian seperti ini meneliti dengan cermat akan sebuah dunia yang kritis dengan suatu integritas kesadaran yang besar." --- Testimonies, vol. 4, pp. 190, 191.

"Kristen memiliki suatu pengertian yang jauh lebih luas dari pada banyak pengertian yang telah diberikan kepadanya. la itu bukan suatu pernyataan kepercayaan. Itu adalah perkataan dari Dia yang hidup dan kekal selamanya. Itu adalah suatu prinsip yang hidup, yang menghidupkan, yang menguasai pikiran-pikiran, hati, motivasi, dan keseluruhan manusia. Kristen --- Ya agar kita dapat menghayati perbuatan-perbuatannya! Itu adalah suatu pengalaman pribadi yang penting, yang mengangkat dan memuliakan manusia secara utuh." --- Testimonies to Ministers, pp. 421, 422.

Semuanya inilah yang merupakan agama Kristus itu, dan orang yang mempraktekkannya, memiliki amal ibadah yang benar (1 Korinthi 13) --- ia itu "kelahiran kembali" yang sebenarnya.

Mengulangi kembali hal itu, maka setiap Kristen yang benar pertama sekali mengorganisir dirinya sendiri, kemudian keluarganya, dan kemudian usahanya. Dan lebih lagi, ia akan belajar melalui semuanya itu, bahwa sebagian orang dapat diorganisir, sedangkan yang lain-Iainnya tidak dapat; bahwa sebagian orang berusaha mencapai hasil, sedangkan yang lainnya berusaha sia-sia; bahwa sebagian orang menghasilkan, sedangkan yang lainnya hanya mengkonsumsi; bahwa sebagian orang selalu memberi bagaikan pohon Maple, sedangkan yang lainnya selalu mengambil bagaikan karet spons yang kering; bahwa sebagian orang membawa berkat bagi dunia dengan barang, sedangkan yang lainnya hidup dan bekerja bagi dirinya sendiri dan mengira bahwa semua orang lainnya harus hidup dan bekerja bagi mereka; bahwa sebagian orang secara diam-diam menghayati agama mereka, sedangkan yang lainnya memamerkan kesuciannya oleh banyak berbicara agama dan berdoa, tetapi sedikit sekali perbuatan-perbuatannya yang sesuai dengan bicaranya; dan bahwa sebagian orang mengetahui kapan akan berkunjung dan kapan jangan berkunjung, sedangkan yang lainnya sama sekali tidak tahu kapan waktunya berkunjung maupun kapan waktunya meminta diri, sehingga harus ditarik pergi! Betapa luasnya persoalan seorang penghotbah.